nuno's web blog

laksonoadi.web.id/blog

witing tresno jalaran saka kulina

with 7 comments

peribahasa yang menarik, dan selalu aku pake buat mendapatkan perhatiaan seseorang. berasal dari kebiasaan, semua akan menjadi sebuah kenyataan bahwa, kita akan saling membutuhkan kemudian. bisa digunakan di dalam bisnis, dalam pendidikan dalam percintaan akan lebih cocok kayana..

dari peribahasa tersebut, aku jadi teringat dengan rumus fisika yang ku dapat pas SMP dulu. jelasnya gimana lupa, yang ku ingat cuma guru yang ngajar namanya pak Zuhri.

disebutkan kaya gini :
suatu benda punya suatu titik muai atau apalah sebutannya (aku udah lupa soalnya). yang kalo kita runtut akan terjadi kaya gini
studi kasusnya pada benda yang namanya AIR

air yang berada di bawah suhu dinamakan ES

Es –> kena panas –> mencair –> Air
ket :
Es mendapat kan panas yang terus menerus, maka akan berubah bentuk menjadi air,

Air –>kena panas –> mendidih –> air panas
ket :
air yang tadinya biasa aja di panasin lgi lama2 mendidih jadi air panas
itu kalo suhunya tetap, ga nambah 1 derajat dari titik didih air,

air panas (air mendidih) –> dipanasin lagi –> menguap –> uap air
ket :
air panas itu kalo dipanasin lagi, lama2 akan menguap dan menghilang..
gada air lagi kali dipanasin terus

lha terus apa hubungannya ma peribahasa di atas???

ES batu –> diibaratkan dengan rasa (perasaan)
ini terjadi dimana “dia” (seseorang yang anda sukai) masih belum tau anda.
masih belum mengenal anda.

kemudian Es diberi panas mencair menjadi air…
ket :
disini yang tadinya dingin dengan anda, lama-kelamaan ketika anda beri perhatian dengan kebiasaan ngobrol, bercakap2 dsb, dia jadi tahu anda, dan mulai memberikan perhatian bahwa anda itu ada. (ada sebagai teman)

dari air menjadi air panas (air mendidih)
adalah ketika suasana yang anda buat, telah melalui kebiasaan yang lebih dari biasanya. dalam artian semakin sering intensitas anda berhubungan maka semakin besar “suhu” yang diberikan ke si “air”. sehingga dari temen menjadi lebih dari seorang “temen”…

yang bahaya ketika anda memasuki fase terakhir ini.
anda sudah berada di titik nyaman dalam berhubungan, dan anda tinggal mengatur suhu saja,
agar tidak berlebihan, karena ketika berlebihan
“air” yang sudah mendidih tadi akan menguap perlahan2 dan akan menghilang…
dan artinya hubungan yang telah anda jalin akan sia dengan perilaku yang telah anda lakukan sesudahnya. misal over protektif terlalu cemburu dan sebagainya..

mungkin seperti itu yang bisa di analogikan antara peribahasa dengan rumus fisika yang saya sampekan tadi..
silahkan anda untuk mencoba…

Written by laksonoadi

October 31st, 2009 at 7:34 am

Posted in ceritaku,free notes,loves

Tagged with ,

7 Responses to 'witing tresno jalaran saka kulina'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'witing tresno jalaran saka kulina'.

  1. ya masukk akal coba aku praktekan thank

    jacky

    24 Nov 09 at 6:08 pm

  2. mantafft…, sepertinya,tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis…hahaha :D

    icha

    25 Nov 09 at 7:48 am

  3. hehehehe..
    share pengalaman aja neng..

    laksonoadi

    25 Nov 09 at 8:20 pm

  4. Gimana caranya mencairkan si es tsb???

    Miss Dollar

    3 Dec 09 at 5:38 am

  5. wah si om nono bisa aja ngeblog nya
    om, gimana kalo yang mendidih tadi terus jadi uap, terus uapnya berkumpul membentuk himpunan air yang berat jenisnya rendah (awan) terus hujan (kembali menjadi air), tapi ngebuat jadi esnya gimana ya?
    hehehehe..
    :P

    jawab om nono : ya di lebo’ki neng kulkas dunk om kubiwa
    hehehee..
    :P

    nice posting :)

    surya kubiwa

    5 Dec 09 at 7:39 am

  6. cuma ngasih pemikiran aku aja om kubiwa..
    yang pasti,, ngga semua es cocok dengan suhu yang akan kita buat,,
    karena kadang ada es yang udah dipanasi dulu ma suhu yang laen…

    jadi walopun kita maenin suhu kita,,
    ngga ngefek,,
    hahahaha…

    laksonoadi

    5 Dec 09 at 8:00 am

  7. nyong lagi mriang um, sungkan ngomongi es…

    banyu panas bae lah, nggo adus

    jaka

    18 Feb 10 at 5:43 pm

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco

Switch to our mobile site